
Bismillahirrahmanirrahim
Hari ini, 20 Ramadhan 1437 Hijriyah, Hudan kembali berdiri di depan Ka'bah. Tangannya gemetar menengadah. Bibirnya bergerak-gerak tanpa suara. Matanya tak berkedip dengan air mata berhamburan membanjiri pipi kanan dan kiri. Perlahan ia menurunkan lututnya, bersimpuh tampak rapuh. Tetapi di dalam dada keimanannya semakin penuh.
Hudan teringat kembali tiga tahun lalu, saat ia berangkat ke Tanah Suci hanyalah mengikuti kemauan istrinya yang ingin berwisata religi. Itu yakni impian yang asing bagi Hudan. Bagaimana sebuah keyakinan bisa menjadi rekreasi? Bukankah religi atau agama itu yakni keyakinan untuk menyembah dan berpasrah kepada Tuhan?
Apakah wisata religi itu? Apakah hanya jalan-jalan ke Tanah Suci menikmati keindahan kota Makkah?
Ketika berada di pesawat menuju Jeddah, isterinya bercerita bahwa ia ingin menyerupai ibu-ibu yang lain, menjalankan Umrah bersama suami, itu saja. Hudan merasa bertambah asing dengan anutan isterinya itu.
"Jadi, kita pergi ke Makkah ini hanya soal gengsi?"
"Iyalah Papa. Kita ini orang kaya. KTP kita juga Islam. Walaupun kita tidak pernah menjalankan perintah agama, tidak ada salahnya kita menawarkan kepada orang-orang bahwa kita juga bisa agamis. Ya, menurutku begini ini caranya."
"Kamu sudah gila, Ma! Pulang pergi Jakarta - Jeddah itu mahal. Belum lagi biaya hotel, dan kau menghabiskannya untuk satu kata, gengsi!"
"Eh.., itu juga bisa menaikkan derajat kita, Pa! Selama ini orang mengenal keluarga kita kan keluarga rentenir. Dengan pergi ke Makkah menyerupai ini, orang-orang akan tahu bahwa kita juga mempunyai sisi religius."
"Tapi tidak harus buang-buang uang begini kan?"
"Buang Uang? Jadi, Papa merasa rugi mengikuti impian Mama? Apa sih maunya Papa ini?
Perjalanan ini kesannya dipenuhi dengan pertengkaran. Sampai mereka turun dari pesawat, pertengkaran masih terus berlanjut. Hingga kesannya mereka tiba di sebuah hotel bintang lima kawasan mereka menginap. Dengan rasa kesal yang mendalam, tanpa sepatah kata pun isteri Hudan keluar kamar. Hudan terpaku sendiri, ia merasa tidak bersalah alasannya yakni ia hanya ingin mengajari isterinya berhemat dan efisien dalam memakai uang.
Selama ini Hudan tidak pernah terlibat bisnis produktif, kecuali satu-satunya perjuangan yang digeluti Hudan yakni bisnis rente, membungakan uang. Ia sanggup dengan gampang melipatgandakan uangnya tanpa resiko kebangkrutan. Ia cerdik menentukan mangsa yang bisa dihisap darahnya hingga habis.
Adalah Turam, seorang tuan tanah yang takluk di bawah kaki Hudan. Sebagian besar tanah milik Turam sudah jatuh ke tangan Hudan akhir bunga pinjaman. Sore itu yakni hari naas, awal mula kehancuran bagi Turam dan keluarganya.
Ketika itu, anak pria Turam gres saja dibelikan motor baru. Sebuah motor besar 250 CC yang lagi hits di kalangan remaja. Namun petaka tidak sanggup dihindarkan. Anak pria Turam terlibat kecelakaan, ia tidak sanggup mengendalikan kecapatan motor barunya, ia menabrak rumah tetangganya. Anak pria Turam terluka cukup parah pada pecahan dada, motor barunya ringsek dan ia pun dilarikan ke rumah sakit.
Kondisi anak Turam sangat kritis dan butuh penangan serius, dokter yang menanganinya sesegera mungkin harus melaksanakan pembedahan pada organ dada untuk menyelamatkan nyawa anak Turam. Pihak rumah sakit meminta dana awal seratus juta rupiah, yang harus disediakan paling tidak satu jam kedepan. Pembedahan dada akan melibatkan beberapa dokter jago dengan peralatan yang super canggih. Itulah penyebab pihak rumah sakit meminta dana awal yang besar. Pada kesempatan yang sempit inilah Turam dicekik Hudan.
"Halo, Hudan!," Turam menyapa melalui ponselnya. "Halo, ada apa?" Respon Hudan. "Aku dalam keadaan kepepet, Aku butuh seratus juta rupiah sekarang!" balas Turam. "Aku tidak meminjamkan uang sebanyak itu tanpa jaminan dan bunga yang besar," kata Hudan. "Apa yang kau minta? Anakku sedang sekarat di rumah sakit. Cepatlah katakan!" "Sertifikat tanahmu seluas 1000 meter per segi, bawalah ke rumahku."
Tanpa pikir panjang Turam pribadi menelpon salah satu pembantunya yang terpercaya untuk mengantarkan akta tanah yang dimaksud kepada Hudan. Tak berapa usang kemudian, "Halow!" Hudan menghubungi Turam. "Halo, sudah ditanganmu kan?" jawab Turam. "Sudah! Aku akan bawa uangnya ke tempatmu, sekalian kau tandatangani perjanjiannya."
Setibanya di rumah sakit, Hudan menyodorkan Perjanjian Utang untuk ditandatangani. Disebutkan dalam perjanjian itu, Turam sanggup mengangsur utangnya dengan dua kali angsuran dalam satu bulan, semenjak hari perjanjian ditandatangani. Jika tidak sanggup melunasi, Turam akan dikenakan denda dua kali lipat jumlah hutangnya dan berkelipatan sama di setiap bulannya. Hudan juga mensyaratkan bunga 100%, bila tidak bisa melunasi dalam sebulan bunga akan berlipat menjadi 200%.
"Perjanjian ini aneh!" kata Turam. "Tandatangani saja. Kalau tidak mau, akan kubawa pulang kembali uangku." jawab Hudan. Dengan perasaan kesal, Turam menandatangani perjanjian itu. Hudan menyerahkan uangnya kepada Turam. Turam tidak menyadari bahwa Hudan sudah mulai menghisap darahnya.
Sejak itu Hudan menjadi lebih kaya. Dari bulan ke bulan, harta Turam dihisapnya. Pada bulan ketiga, ia meminta akta tanah yang baru. Akhirnya, tidak hingga setahun. Harta kekayaan Turam habis, utang masih belum terlunasi, tak ada lagi barang yang bisa dijadikan jaminan. Akhirnya Hudan melaporkan Turam ke polisi dan menyebabkan Turam sebagai tersangka penipuan. Karena stres yang tak tertahankan, ia mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Hidup Turam berakhir di dalam penjara. Sudah menjadi diam-diam umum bila Hudan itu rentenir!, lintah darat!, ia suka memanfaatkan kesusahan orang lain untuk mendapat keuntungan.
Hudan tidak menyadari sama sekali, bahwa sudah satu jam lebih isterinya meninggalkan kamar hotel. Ketika bel kamar berbunyi, Hudan tak mempedulikannya, ia malah tambah sewot. "Ah, apa sih Ma? Masuk saja kalau mau! Kalau tidak mau, ya sudah pergi sana!" Bel kamar terus-menerus berbunyi. Hudan kesannya membuka pintu kamar dengan wajah kesal. Di depan pintu kamar telah berdiri manager hotel dan seorang penerjemah.
"Bapak Hudan?" Tanya Manager Hotel. "Benar." Jawab Hudan. "Menginap di sini bersama isteri?" Manager Hotel melanjutkan pertanyaan. "Benar, ada apa?", "Isteri Anda kecelakaan. Ia melintas jalan depan hotel tidak pada tempatnya. Sebuah kendaraan beroda empat yang melintas menabraknya hingga tewas." "Maaaaa...!" Hudan menjerit dan berlari keluar dari hotel, ia tidak menemukan jasad isterinya alasannya yakni sudah diangkut ke rumah sakit.
Keesokan harinya, setelah pemakaman isterinya, Hudan merenung seorang diri di dalam kamar hotel. Tanpa sadar, ia memperhatikan gambar Ka'bah yang melekat di dinding. Tiba-tiba ia teringat nasihat-nasihat agama yang pernah didengarnya. "Kalau kau berada di Kota Suci Makkah, bisa saja engkau mendapatkan hidayah, disucikan Allah dari dosa-dosamu!". Kata seorang kiyai di kampungnya. Caranya bisa bermacam-macam. Ada yang lewat mimpi, ada juga yang lewat musibah. Semua itu bisa saja terjadi bila Allah berkehendak, untuk mengingatkanmu semoga engkau membersihkan diri dari dosa.
Ingatan itu menekan jiwa Hudan. Ia gres saja kehilangan isteri semalam dan dikuburkan pagi ini. "Ah... Turam." Ia teringat Turam. Lelaki yang mengakhiri hidupnya di penjara. "Ah.., tidak. Aku tidak pernah mengambil nyawa orang. Ya! harta orang memang sering. Nyawa tidak pernah." Ia terus membela diri hingga ia benar-benar tertekan dengan nasihat-nasihat agama yang pernah didengarnya. "Apakah saya dikehendaki untuk dibersihkan dari dosa?" Ia tidak tahu harus meminta petunjuk kepada siapa. Jiwanya mengalami tekanan yang luar biasa, sementara ia tak bisa berpikir jernih. Ketika ia melihat gambar Ka'bah itu lagi, tanpa sadar ia lansung menjerit, "Allahu Akbar!"
Kemudian ia berlari keluar kamar menuju lobi hotel, menemui pecahan reservasi meminta untuk dicarikan taksi. Ia ingin pergi ke Ka'bah. Di sana ia akan mengadukan dan memohon ampun atas dosa-dosanya yang membuatnya tertekan begitu hebat. Tak usang berselang taksi yang dipesan tiba di depan hotel. Hudan segera masuk dan minta diantarkan menuju Masjidil Haram. Tak disangka ternyata sopir taksi itu juga orang Indonesia.
"Bapak dari Indonesia?" tanya supir itu. "Benar," jawab Hudan pendek. "Kalau ke Ka'bah biasanya orang Indonesia pakai peci, Pak." lanjut supir taksi menjelaskan. "Aku tidak punya peci" balas Hudan. "Kalau begitu saya pinjami." kata si supir. Kemudian Hudan mulai menceritakan seluruh bencana yang dialaminya kepada supir taksi tersebut. Hudan berkilah bahwa ia tidak pernah membunuh atau menghilangkan nyawa orang. Ia hanya mengambil harta orang-orang itu dengan cara rente.
Supir itu menghentikan taksinya alasannya yakni memang sudah hingga di Masjidil Haram. Sebelum Hudan turun dari taksi, supir itu mengomentari mengenai Turam yang bunuh diri dipenjara, "Bapak tidak perlu menyangkal bahwa tidak pernah menghilangkan nyawa orang. Orang itu hidupnya dengan harta, Pak. Jika hartanya habis, maka nyawanya juga bisa habis. Jika Bapak merebut seluruh harta Pak Turam, maka Bapak sama saja menghilangkan nyawa Pak Turam. Kalau Bapak tidak percaya, coba saja Bapak hidup tanpa harta. Ya, setelah sekian tahun bergelimang kecukupan dan bahkan berlebihan, Bapak niscaya akan stres tanpa harta. Kemudian stres itu akan menikam Bapak perlahan-lahan. Jika Bapak tidak sanggup bertahan, maka Bapak akan bunuh diri. Jika Bapak tahan terhadap rasa sakitnya, maka Bapak akan hidup agak usang hingga stres itu benar-benar membunuh Bapak!"
Hudan melongo mendengar kalimat panjang supir taksi itu. Tanpa sepatah kata, perlahan-lahan ia keluar dari taksi. Matanya menatap Masjidil Haram yang indah itu. Ia belum juga melangkahkan kaki, setelah beberapa menit taksi itu meninggalkan dirinya yang berdiri termangu.
Ia masih belum mengerti apa yang harus dilakukan saat hingga di Ka'bah. Tetapi hatinya dari tadi menyampaikan bahwa ia harus ke Ka'bah. Kemudian perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya menuju Ka'bah.
Ka'bah olehnya terlihat begitu agung. Tubuhnya bergetar besar lengan berkuasa saat hampir mendekati Ka'bah. Orang-orang yang berlalu lalang menabraknya. Hudan Rubuh dan terinjak seseorang yang sedang melaksanakan Tawaf. Kemudian ia berdiri lagi, melangkahkan kaki semakin mendekati Ka'bah. Semakin erat Ka'bah orang yang Tawaf semakin banyak. Ia tidak bisa menembus barisan.
Hudan berdiri sempoyongan. Tubuhnya masih bergetar hebat. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuat di depan Ka'bah. Tetapi ia tetap berdiri di situ, di antara orang-orang yang sedang Tawaf. Tiba-tiba bibirnya bergerak-gerak. "Ya, Allah. Ya, Allah. Tunjukan saya jalan kebaikan." Hanya itu yang bisa dikatakan Hudan. Sampai kesannya ia benar-benar terjerembab ke lantai dengan mata terpejam. Ketika ia membuka matanya, ia sudah berada diruang perawatan kesehatan.
Setelah pulang ke Tanah Air, Hudan berkunjung ke salah seorang sahabatnya semasa kecil yang ilmu agamanya cukup baik. Ia menceritakan seluruh sikap buruknya selama menjadi rentenir. Ia juga bercerita soal bencana yang dialaminya di Tanah Suci Makkah kepada sahabatnya itu.
"Karena engkau tidak punya anak, maka berikan dan sedekahkan seluruh hartamu untuk kemaslahatan Umat Islam," kata sobat Hudan itu. "Aku akan memberimu modal semoga engkau bisa memulai bisnis gres dan mengawali hidup baru". Sejak itu, Hudan benar-benar memulai perjalanan hidupnya dari titik nol kilometer. Ia mulai membangun bisnis kuliner dan menabung. Sampai hari ini, setelah dua tahun lebih menabung, ia berhasil kembali mengunjungi Ka'bah.
Tangannya menengadah gemetar. Air matanya mengucur deras di atas pipinya yang kurus. Bibirnya bergerak-gerak tak terang bunyinya. Namun dadanya, dada itu penuh haru, rasa syukur telah ditunjukkan jalan yang lebih baik oleh Allah SWT. Ia telah diselamatkan Allah dari dosa riba. Dibersihkan dengan pertobatan yang murni.
Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertobat sehabis itu dan beriman; sebenarnya Tuhan kau sehabis Tobat yang disertai dengan dogma itu yakni Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-A'raaf [7]:153)
Sumber: Kisah-Kisah PerTobatan. Oleh: Ahya Alfi Shobari. Hal.: 169-182
Buat lebih berguna, kongsi:
