Biografi Amien Rais – Bapak Reformasi Indonesia | Cendekiawan Muslim


 yaitu salah satu tokoh Nasional yang berjasa dalam membawa gerakan Reformasi  Biografi Amien Rais – Bapak Reformasi Indonesia | Cendekiawan Muslim
Biografi Amien Rais
Amien Rais yaitu salah satu tokoh Nasional yang berjasa dalam membawa gerakan Reformasi 1998. Amien Rais beserta Megawati Soekarnoputri dan KH Abdurrahman Wahid yaitu tokoh reformasi yang mengawal jalannya reformasi 1998 sampai sanggup menumbangkan Reim Orde Baru. Berikut ini Biografi Amien Rais.

Lahir dan Masa Kecil

Amien Rais dilahirkan pada tanggal 26 April 1944 di Solo dari pasangan suami istri Suhud Rais dan Sudalmiyah. Amien Rais yaitu anak kedua dari enam bersaudara yaitu adalahFatimah, dan empat adiknya yaitu Abdul Rozak, Achmad Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Aminah.

Sejak kecil Amien Rais dididik pendidikan agama secara ketat oleh sang ibu. Keluarga Amien Rais yaitu keluarga yang  taat beribadah. Ayahnya yaitu seorang guru sedang ibunya yaitu guru di sekolah Kepandaian Putri (SGKP ) Negeri dan Sekolah Bidan Aisyiyah Surakarta. Keluarga Amien Rais memang cenderung ke Muhammadiyah. Kakeknya, Wiryo Soedarmo yaitu salah satu pendiri Muhammadiyah di Gembong, Jawa Tengah.

Didikan Ibu yang Disisplin

Sudalmiyah yaitu tipe orang yang sungguh – sungguh dalam melaksanakan segala hal termasuk dalam profesinya sebgai guru, dia benar-benar total menjalaninya. Karena totalitasnya di dunia pendidikan ini maka pada 1985 gelar Ibu Teladan se-Jawa Tengah disematkan padanya. Sudalmiyah juga suka berorganisasi, Beliau sangat aktif dalam partai politik Masyumi ketika masih jaya-jayanya.

Ketotalan Sudalmiyah juga tercermin dalam cara mendidik anak-anaknya. Sudalmiyah sangat menerapkan disiplin pada anak-anaknya. Sebagai pola ketika bangkit pagi. Amien Rais kecil sudah dilatih untuk bangkit tiap jam 4 pagi. Agar tidak terlambat bangkit maka sang ibu selalu emasang weker. Dan kalau sudah bangkit maka Amien disuruh untuk menyampaikan “ashalatu khairum minan naum” dengan bunyi keras sehingga terdengar sang ibu, kemudian mereka semua harus siap berjamaah subuh. Biasanya Sudalmiyah akan memberi bonus 50 sen kalau sang anak berhasil bangkit sempurna waktu. Uang tersebut dimasukkan ke celengan oleh Amien dan dibuka ketika lebaran untuk membeli baju lebaran.

Sekalipun ibu Amien Rais orang yang tegas namun dia tak memaksa kehendak anaknya dalam menentukan karier. Anak-anaknya dibiarkan tumbuh dan berkembang alamiah sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Ibunya hanya berpesan bahwa “Hakikat hidup yaitu ibadah”. Pesan inilah yang selalu diingat oleh Amien Rais sampai tua. Segala yang dilakukan haruslah diniatkan untuk ibadah semoga tak sia-sia. Makn untuk ibadah, tidur ibadah, kerja juga niat ibadah.

Bagi Amien Rais, ibu yaitu orang yang sangat mempengaruhi kehidupannya, membentuk karakternya. Hingga kalau Amien mengalami dilema yang sulit dipecahkan maka ia selalu berkonsultasi ke sang ibu di Solo. Setiap Idul Fitri, rumah sang ibunda di Solo selalu ramai dikunjungi anak-anaknya dan cucu-cucunya termasuk Amien Rais.

Ketika kecil, Amien Rais bercita-cita ingin menjadi Walikota. Hal ini dikarenakan kekagumann Amien Rais pada Muhammad Saleh sang Walikota Solo yang begitu taat menjalankan agama serta masih aktif memperlihatkan tauziah di masjid-masjid walau sudah sibuk dengan kiprah kewalikotaan.

Akan tetapi ketika SMA, Amien Rais ingin menjadi duta besar. Hingga dia menentukan Hubingan Internasional ketika kuliah. Amien berprinsip bahwa “Hidup untuk mencari Ridha Allah”. Beliau sellau berpegang bahwa untuk menggapai ridah Illahi maka dia harus menjadi orang yang apa adanya. “You are what you are”.

Amien Rais Menikah

Amien Rais dan Keluarga
Pada 9 Februari 1969, Amien Rais menikahi seorang gadis yang bernamaKusnasriyati Sri Rahayu. Gadis itu juga yaitu teman kecilnya dahulu. Namun selama menjalani ijab kabul mereka sulit dikaruniai anak sampai usia ijab kabul yang ke 10. Mereka berdua sudah mencoba aneka macam jalan namun selalu belum memperoleh hasil.

Hingga suatu ketika mereka berdua diberi kesempatan untuk beribadah haji ke tanah suci. Amien Rais dan sang istri begitu khusyu beribadah dan berdoa di depan Baitullah. Setelah pulang dari Mekkah. Dua bulan kemudian Kusnasriyati nyata hamil. Sejak ketika itu setiap dua tahun mereka dikaruniai anak sampai lima orang yaitu Ahmad Hanafi, kemudianHanum Salsabiela, Ahmad Mumtaz, Tasnim Fauzia, dan yang terakhirAhmad Baihaqy.

Istri Amien Rais yaitu ibu rumah tangga yang begitu total menjaga anak-anaknya. Untuk lebih bersahabat dengan dunia anak-anak, Kusnasriyati mendirikan Taman Kanak Kanak. Awalnya itu hanyalah Taman Kanak-kanak kecil namun kemudian berubah menjadi Taman Kanak-kanak yang lebih maju. Kusnasriyati juga membuka kedai sederhana yang kemudian sangat diminati para mahasiswa.

Bagi Amien Rais, istrinya yaitu perempuan luar biasa. Pernah suatu ketika dia mendapatkan tamu wartawan dari Jepang. Amien Rais begitu antusias menceritakan wacana istrinya, “Istri saya mungkin merupakan perempuan terbaik se-Asia Tenggara.” Begitulah Kusnasriyati dimata Amien Rais.

Berorganisasi dan Karir Politik

Ketika sekolah Amien Rais sangat aktif di acara Hizbul Wathon atau Pramuka. Disinilah Amien Rais mengenal apa itu kepemimpinan dan kebersamaan dalam satu visi dan misi atau yang disebut berorganisasi. Ketika menjadi mahasiswa, ia termasuk salah seorang pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah [IMM]. 

Ia juga pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam [HMI], dan pernah di¬percaya untuk mendu¬duki jabatan sekretaris Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam [LDMI] HMI Yogyakarta. Amien Rais juga suka menulis di kolom surat kabar yaitu tabloid mingguan Mahasiswa Indonesia.  Karena ketajaman dalam menulis ini Amien Rais pernah mendapatkan Zainal Zakie Award, sebuah penghargaan bagi mereka yang manis artikelnya.

Sejak Taman Kanak-kanak sampai SMA, Amien Rais selalu menentukan sekolah Muhammadiyah. Jika ketika itu sudah berdiri Universitas Muhammadiyah maka mungkin Amien Rais menentukan kuliah disitu juga. Amien Rais kemudian menentukan UGM untuk kuuliahnya, namun sang ibu menginginkannya mencar ilmu di Kairo. Untuk menghibur hati ibunya Amien Rais berkuliah ganda di UGM dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ketika itu belum muncul larangan kuliah pararel.

Setelah lulus S1, Amien Rais melanjutkan studinya ke University of Notre Dame, Indiana, Amerika Serikat. Amien Rais kemudiann meneruskan S3 di University of Chicago untuk meraih gelar doktor. Dalam kesehariannya, Amien Rais menentukan mengabdi di Almamaternya yaitu UGM menjadi dosen. 

Penggerak Reformasi

Ketika Indonesia mengalami pergolakan mulai tahun 1997, Amien Rais tidak tinggal diam. Beliau juga aktif menyuarakan apresiasi rakyat yang kemudian mengantarkannya menjadi aktifis yang menggerakkan roda reformasi pada tahun 1998 bersama Megawati, Sri Sultan HBX dan Gus Dur.

Karena jasa dia dan Megawati, Sri Sultan HBXserta Gus Dur inilah kemudian tiga tokoh ini dinobatkan sebagai Tokoh Reformasi 1998. Amien Rais sendiri disebut sebagai Bapak Reformasi.

Setelah Soeharto tumbang dan tuntutan reformasi akan pergantian kepemimpinan menuai sukses, Amien Rais kemudian membentuk sebuah partai yang disebut Partai Amanat Nasional atau PAN. Pada pemilu 1999, Amien Rais terpilih sebagai Ketua MPR. Posisi ini sangatlah strategis dengan segala upaya, Amien Rais sangat pintar dalam “bermain” sehingga ketika dipimpinnya MPR benar-benar sanggup mengemban amanat rakyat.

Pada 2006  Amien turut mendukung penilaian kontrak karya terhadap PT.Freeport. Setelah terjadi insiden Abepura, Kepala Badan  Intelejen Negara (BIN) Syamsir Siregar secara tidak pribadi menuding Amien Rais dan LSM terlibat dibalik insiden ini. Tapi hal ini kemudian dibantah kembali oleh Syamsir Siregar.

Peran Amien Rais dalam acara politik di Indonesia sangatlah besar. Indonesia sangatlah beruntung mempunyai sosok cendekiawan menyerupai beliau. Semoga dikemudian hari muncul “Amien Rais Amien Rais” yang gres dan jauh lebih baik untuk kemajuan bangsa ini.
Buat lebih berguna, kongsi:
close