Tahajud Melepaskannya Dari Lilitan Hutang

 Abul Yatama yaitu nama yang disematkan oleh sobat Tahajud Melepaskannya Dari Lilitan Hutang
Bismillahirrahmanirrahim

Abul Yatama yaitu nama yang disematkan oleh teman-temannya kepada seorang pemuda, alasannya yaitu keikhlasan dan ketulusan hatinya dalam mengurus puluhan bahkan ratusan anak yatim yang ia sendiri tidak terlalu mengenal siapa mereka dan bagaimana latar belakangnya. Yang mendorong hatinya tergerak untuk ikut serta mengurus anak yatim yaitu tenggang rasa kemanusiaannya. Namun siapa sangka, sosok yang kalem itu juga pernah mengalami masa-masa sulit penuh perjuangan.

Abul Yatama sebelumnya pernah merintis bisnis meubel dan untuk menjalankan usahanya itu ia harus berhutang ke banyak sekali pihak sampai puluhan juta rupiah. Selain dipakai sebagai modal, sebagian duit derma itu ternyata  ia gunakan pula untuk memenuhi biaya kebutuhan sehari-hari dirinya, juga orang-orang yang terlibat dalam membantu usahanya. Ia bukan tidak mempunyai order dari usaha meubelnya, bahkan ia termasuk yang beruntung alasannya yaitu sebagai pemula sudah mempunyai beberapa pesanan dari kalangan kaum ternama.

Namun demikian, ada lahan garapan bukannya menciptakan nasib Abul Yatama berubah. Setiap order yang diterimanya, dikerjakan dengan dana seminimal mungkin. Alasannya, ia ingin menjaga korelasi silaturrahim dengan pihak yang memberinya order. Ia mendapatkan order itu sebatas untuk membangun reputasi perusahaan lebih dulu. Harapannya alasannya yaitu yang memberinya order yaitu orang ternama, mereka bisa menjadi ujung tombak yang ampuh dalam promosi usaha, melalui gethok tular, dari verbal ke mulut. Karena itulah, setiap mendapatkan order, ia hanya mengajukan anggaran secukupnya untuk menutupi kebutuhan materi mentah dan upah kerja karyawan lepasnya.

Itulah yang membuatnya hampir tidak pernah bisa menyimpan sisa uang yang cukup untuk diputarnya. Kondisi itulah yang menyebabkannya terjebak hutang di banyak sekali daerah sampai puluhan juta rupiah. Banyak yang heran sebagai pengusaha dengan banyak order, mengapa ia tetap mempunyai hutang. Rupanya tak banyak yang tahu kondisi yang sedang dialaminya. Ketika hutangnya telah tersebar di banyak sekali pihak, ia terlihat mulai panik. Selain harus memikirkan bagaimana cara menutup hutang, ia juga harus mengadakan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sekaligus harus membiayai kuliah adiknya.

Nasibnya mulai berubah dikala ia mulai banyak bergaul dengan kalangan ulama. Oleh para ulama itu, ia diminta membantu mengurus santunan bawah umur yatim yang jumlahnya ratusan jiwa. Ia menyanggupi kepercayaan itu dan menjalankan dengan penuh ketulusan. Tidak tampak keluh kesah di wajahnya. Sebaliknya, ia terlihat senang bisa menjawab kepercayaan itu. Baginya, kesanggupan untuk menjalankan kepercayaan para ulama, yaitu dedikasi sejati. Ia percaya, ada pesan tersirat di balik semua ini. "Ia sedang berburu berkah", bisik seorang sobat dekatnya. Ada yang menyangka, sebagai bujangan, Abul Yatama dianggap sedang menunggu 'durian runtuh' yakni berharap mendapatkan jodoh santriwati. Dengan berakrab-akrab dengan kalangan ulama, ia mempunyai kesempatan luas untuk unjuk diri sebagai orang yang cocok dijodohkan setidaknya dengan seorang gadis penghafal Al-Quran.

Tetapi, Abul Yatama jauh dari semua angapan itu. Ia tetap bekerja dengan serius, dan hebatnya, ia sama sekali tidak pernah memakai dana santunan anak yatim yang dikelolanya untuk aktivitas bisnisnya. Ia memakai dana sendiri untuk menopang aktivitas usahanya sehari-hari. Tidak banyak yang tahu, dari ketulusannya itulah, ia akan dekat dengan dunia spiritual. Ia terlihat rajin mendirikan tahajud. Hidupnya pun tampak berbeda dengan kondisinya beberapa tahun silam. Ia kian sering terlihat sumringah, meskipun masih tetap menentukan lajang. Sedikit demi sedikit, tanpa disadarinya, ia telah mulai kenal dengan banyak orang ternama dari pergaulannya mengurus anak yatim dan banyak sekali aktivitas sosial lainnya.

Dalam doanya di setiap tahajud, tidak pernah ia protes Allah dengan menuduhnya menimpakan kepadanya tumpukan hutang. Ia tidak pernah merasa dikutuk Allah sebagai hamba yang ditakdirkan menjadi kaum miskin. Dalam tahajudnya, ia selalu berusaha optimis,  dibangunnya perasaan baik sangka kepada Allah, kekasihnya tercinta. Setapak demi setapak dengan tenang, tulus, dan semangat, ia membangun usahanya. Dengan gigih dikerjakannya setiap order yang diterimanya di tengah keterbatasan karyawan, daerah dan modal. Namun, kalau Allah telah mengatakan kuasanya, tidak ada yang sanggup menolak. Abul Yatama kini berbeda dengan sosok yang dulu. Kini ia lebih tekun mengurus usahanya, mencatat pemasukan dan pengeluaran secara cermat.

Berbagai order dihitungnya secara sungguh-sungguh dengan perhitungan profesional bisnis, setidaknya, ia tidak ingin mengambil untung terlalu hiperbola tetapi tidak pula merugikan bisnis yang sedang dalam tahap perintisan itu. Satu per satu order diterima, dan kini ia telah menggarap order bernilai ratusan juta rupiah. Ia juga mendapatkan proposal untuk menyuplai kebutuhan sebuah perusahaan eksportir. Kini ia sibuk berbenah, menyiapkan daerah pengolahan kayu dan meningkatkan kualitas anak buahnya.

Itulah buah tahajudnya yang menggerakan perubahan dirinya secara dahsyat. Tahajud membuatnya lebih tekun, optimis dan tidak gegabah dalam menjalani hidup. Ia juga terlihat lebih tulus dalam menjalani kehidupan sehari-hari, dengan terlibat banyak sekali aktivitas sosial. Inilah rahmat dan berkah yang didapatnya lewat tahajud, yakni kesadaran wacana hidup, bahwa hidup tak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual. Hidup membutuhkan kecerdasan emosional dan spiritual, termasuk bagaimana melibatkan diri dalam aktivitas sosial. Inilah yang menciptakan Abul Yatama bisa merengkuh banyak sekali berkah hidup di dunia dan di alam abadi kelak. Seperti janji Allah SWT,

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah yaitu serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah 2:261)


Sumber : Tahajud Energi Sejuta Mukjizat. Oleh: Muhammad Thobroni. Hal. 128-131
Buat lebih berguna, kongsi:
close