
Bismillahirrahmanirrahim
Sumber-sumber sejarah mengisahkan, ketika Rasulullah SAW mengizinkan perempuan untuk ikut berperang, tak ayal beberapa perempuan Muhajirin dan Anshar turut berpartisipasi dalam Perang Uhud. Mereka membawa obat-obatan, air dan makanan di punggung mereka. Di antara mereka yang ikut ialah Fatimah Az-Zahraa' putri Rasulullah SAW.
Fatimah turut bersama beberapa perempuan dalam perang Uhud menyertai ayahanda dan sang suami, penunggang kuda dan panglima perang yang jago itu. Saat itu belum lewat setahun dari pernikahannya dengan Ali bin Abu Thalib, lantaran ia menikah sesaat sesudah perang Badar tahun kedua Hijriyah, sedangkan perang Uhud terjadi setahun kemudian.
Kaum muslimin terlibat perang jago menghadapi para pemimpin kafir dan musyrik yang tiba hendak menghancurkan pasukan Rasulullah SAW dan kaum muslimin. Hati mereka penuh dengan kebencian dan dendam akhir kekalahan yang mereka alami ketika Perang Badar.
Pertempuran semakin sengit dan hampir saja panji-panji kemenangan berpihak pada pasukan kaum muslimin. Akan tetapi kemudian pasukan pemanah meninggalkan gunung dan tidak menghiraukan instruksi Rasulullah untuk tidak meninggalkan pos mereka dan tetap melindungi pecahan belakang pasukan kaum muslimin, apapun yang terjadi. Namun ketika mereka melihat peluang kemenangan, maka mereka segera berhamburan meninggalkan posisi mereka di atas gunung.
Kesempatan tersebut dimanfaatkan pihak musuh sehingga dengan cepat datanglah pasukan musyrik dari arah belakang. Pasukan kaum muslimin risikonya terjebak di antara dua celah gunung. Dan Ali bin Abu Thalib, pada pertempuran ini menjadi jagoan sejati. Dari serangannya yang dahsyat dan gencar kepada pasukan kafir, ia sering memenggal leher, menggentarkan mental dan pikiran musuh.
Pada hari itu, datanglah beberapa tokoh Quraisy dengan membawa rencana jahat, mereka mengepung Nabi SAW. Di antara mereka ada empat orang yang saling bersumpah untuk membunuh Rasulullah SAW bagaimanapun sulitnya keadaan. Mereka ialah Amr bin Qami'ah, seorang musuh Allah, Ubay bin Khalaf 'Utbah bin Abu Waqqash dan Abdullah bin Syihab Az-Zuhri.
Abdullah bin Syihab berhasil melukai Nabi SAW, ketika ia menghajar kening dia yang mulia hingga darah pun mengalir ke wajah beliau. "Utbah bin Abu Waqqash melukai bibir bawah dan menjatuhkan gigi depan dia yang sebelah kanan.
Di antara mereka yang paling berpengaruh kekafirannya dan paling banyak kejahatannya ialah Amr bin Qami'ah yang menyabet bahu Nabi SAW dengan pedang dan juga mengenai pipi dia yang mulia. Nabi sendiri mencicipi sakit akhir serangan orang-orang terlaknat itu.
Lalu tiba giliran yang terakhir dari orang-orang kafir itu, yaitu Ubay bin Khalaf, yang hendak mencekik Nabi SAW dan membanting beliau. Namun Rasulullah SAW lebih dahulu menusuknya dengan belati yang mengenai lehernya, sehingga menyebabkan kematiannya, dikala ia dalam perjalanan pulang kembali ke Makkah.
Fatimah Az-Zahraa' yang melihat darah mengalir dari wajah ayahanda tercinta, eksklusif memeluk dia dan mengusap darah yang ada pada wajah dia yang mulia itu. Ia mendengar ayahandanya, Rasulullah SAW berkata, "Murka Allah akan menghebat kepada kaum yang telah menciptakan wajah Rasulullah berdarah, dan bahwa Allah akan menolong Nabi-Nya serta memenangkan pasukan-Nya seberapapun besar kekuatan orang-orang musyrik itu."
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa'ad, ia berkata, "Rasulullah terluka dan gigi depan dia hingga pecah. Fatimah binti Rasulullah kemudian mencuci darah itu dan Ali menuanginya dengan air dari perisai. Ketika Fatimah sadar bahwa air justru akan semakin menambah perdarahan maka ia pun mengambil sepotong tikar yang kemudian dibakarnya. Ketika telah menjadi abu, bubuk tersebut ditempelkannya pada luka Rasulullah. Tersumbatlah darahnya." Setelah itu, Fatimah Az-Zahraa' senantiasa merawat ayahanda yang mulia itu hingga dia sembuh dari lukanya.
Perang uhud tidak menjadi simpulan usaha bagi Fatimah. Ia juga terlibat dalam Perang Khandaq dan Perang Khaibar pada tahun ke-7 Hijriyah, dimana ia berangkat bersama dengan suaminya Ali bin Abu Thalib sang pahlawan umat Islam dan ayahanda Rasulullah SAW. Bagian yang didapatkan Fatimah dari rampasan perang ialah 85 wasaq gandum Kaibar.
Kehidupan Fatimah Az-Zahraa' ialah kehidupan zuhud dan serba memprihatinkan yang membuatnya menjadi begitu tabah dan tegar. Demikian juga Ali bin Abu Thalib sang suami, padahal keduanya ialah termasuk orang-orang yang paling dicintai Rasulullah SAW. Pernah selama berhari-hari, keduanya tidak memiliki makanan untuk sekedar mengganjal perut atau menghilangkan rasa perih akhir lapar. Ali bin Abu Thalib mengatakan, "Beberapa hari saya tidak memiliki apapun. Begitu juga Rasulullah. Lalu saya keluar rumah, di jalan saya menemukan uang satu dinar yang jatuh di jalan. Aku pun membisu sesaat untuk mempertimbangkan, apakah mengambilnya ataukah membiarkannya. Akhirnya saya menentukan mengambilnya, mengingat keprihatinan yang menimpa kami. Lalu saya menyerahkannya kepada seorang penjual tepung untuk mendapatkan tepung. Kemudian saya menunjukkan tepung itu kepada Fatimah. Aku berkata, "Jadikan campuran dan buatlah roti". Fatimah kemudian menciptakan campuran roti dan rambut depan Fatimah mengenai pinggir-pingir bejana akhir kepayahan yang dialaminya. Ia pun menciptakan roti. Kemudian saya mendatangi Nabi SAW dan menceritakan hal itu kepada beliau. Beliau mengatakan, "Makanlah, lantaran itu ialah rezeki yang diberikan oleh Allah kepada kalian."
Hidup dalam keprihatinan tidak menciptakan Fatimah Az-Zahraa' menjadi orang yang suka mengeluh. Sebab ia ialah perempuan mukmin yang mendapatkan apa adanya, berpegang teguh pada ajaran-ajaran ayahanda tercinta yang pernah mengatakan, "Alangkah beruntungnya orang-orang yang menerima hidayah kepada Islam dan hidup dalam keadaan pas-pasan namun mendapatkan apa adanya."
Fatimah mendengar sendiri secara eksklusif Rasulullah mengatakan, "Wahai manusia, perbaguslah usaha kalian dalam mencari rezeki. Karena tidak didapatkan oleh seorang hamba kecuali apa yang telah ditetapkan baginya di dunia. Dan tidak ada seorang hamba pun meninggal dunia hingga ia mendapatkan apa yang telah ditetapkan baginya. Dan dunia ini ialah hina."
Fatimah juga selalu mengingat kata-kata Rasulullah SAW, ayahanda yang agung itu mengatakan, "Sesungguhnya Jibril telah memberikan pada hatiku bahwa salah seorang dari kalian tidak akan keluar dari dunia (meninggal dunia) hingga disempurnakan rezekinya. Maka bertaqwalah kepada Allah wahai insan dan perbaguslah dalam mencari rezeki. Ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram."
Sumber: Anak Cucu Nabi. Oleh: Syaikh Abdul Mun'im Al-Hasyimi. Hal.: 143-147
Buat lebih berguna, kongsi:
