
Bismillahirrahmanirrahim
Di Zaman Nabi Musa AS., hidup seorang lelaki yang sangat fasik lagi durhaka. Kefasikan yang dilakukannya semakin hari semakin menjadi-jadi, karena penduduk negeri tidak ada yang berani mencegahnya. Melihat kefasikan yang semakin tidak karuan, balasannya mereka bersepakat untuk menyerahkan segala urusan ini kepada Allah SWT. Lalu mereka berdoa, memohon kepada Allah biar si fasik diberi peringatan atau pembalasan. Allah lalu memerintahkan kepada Nabi Musa AS., biar mengusir lelaki fasik itu dari negerinya, alasannya yaitu dikhawatirkan kalau-kalau penduduk negeri mendapat azab dari Allah sebagai siksaan di dunia karena kefasikan yang telah dilakukan lelaki itu.
Merasa mendapat perintah dari Allah, Nabi Musa segera bertindak. Lelaki fasik itu dipanggil, lalu diusir biar meninggalkan Negeri Bani Israil. Lelaki itu menuruti perintah Nabi Musa, ia pergi meninggalkan kampung halaman, masuk ke dalam hutan belantara. Di dalam hutan, tidak ada mahluk yang tinggal, baik burung maupun hewan buas. Kini hutan yang lengang dan sepi, dihuni seorang anak insan yang terusir dari kampung halamannya.
Setelah beberapa hari tinggal di tengah hutan, lelaki itu jatuh sakit. Tidak ada seorang pun yang mengetahui, apalagi menolong. Ketika dalam keadaan kritis, menjelang maut menghampiri, ia sempat mengucapkan kalimat, "Ya Tuhanku, seandainya ibuku berada di sisiku ketika ini, tentu ia akan merasa belas kasihan melihat keadaanku, dan ibuku pun niscaya menolongku. Seandainya kedua orang tuaku ketika ini berada di sisiku tentu mereka akan memandikan, mengkafani, menshalati dan menguburkan jenazahku. Seandainya anak istriku ketika ini berada di sampingku, tentu mereka akan menangisi dan mengiring jenazahku, serta mendoakanku, 'Ya Allah, ampunilah dosa-dosa orang tuaku, ampunilah saya yang pergi jauh nan hina ini, yang fasik, yang banyak melaksanakan perbuatan dosa dan maksiat kepada-Mu, yang telah diusir dari kampung halamannya hingga pergi ke hutan belantara, serta meninggalkan alam fana yang indah menuju alam alam abadi yang infinit dengan penuh penderitaan. Dia jauh dari sanak keluarga, anak istri, teman kerabat dan segalanya, kecuali rahmat-Mu. Ya Allah, curahkanlah rahmat dan ampunan dari sisi-Mu."
Ketika sakit, lelaki itu tidak pernah lupa memanjatkan doa, "Ya Allah..!, Engkau telah memisahkan saya dengan orang tua, anak dan istriku. Tapi janganlah Engkau memisahkan diriku dengan rahmat-Mu. Ya Allah..! Engkau telah mengkremasi hatiku dengan panasnya perpisahan dengan sanak keluargaku. Maka janganlah Engkau mengkremasi diriku dengan api neraka karena maksiat yang terlanjur saya lakukan."
Atas izin Allah, doa yang dipanjatkan itu dikabulkan. Allah lalu mengutus tiga malaikat biar mirip ibunya, anak dan istrinya. Allah juga mengutus satu lagi malaikat, berwajah mirip ayahnya, hingga ketika menjelang ajal, lelaki itu merasa ditunggui oleh seluruh keluarga yang dicintai. Mereka menangis dan meratapi kepergiannya, serta merasa kasihan terhadap lelaki yang terbaring sakit itu. Melihat kenyataan yang ada, lelaki itu merasa hening dan bahagia, karena sanggup bertemu dengan sanak keluarga. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah, menjelang maut ia berdoa, "Ya Allah..!, janganlah Engkau tetapkan diriku dengan rahmat-Mu. Sungguh, Engkau yaitu Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Selesai mengucapkan doa, lelaki itu meninggal. Dia mendapat khusnul khatimah, terampuni dari segala dosa dan mendapat daerah mulia di sisi Allah SWT.
Allah lalu menurunkan wahyu kepada Nabi Musa AS., "Hai Musa, pergilah ke hutan belantara. Sungguh, di sana salah seorang kekasih-Ku telah meninggal. Mandikan, kafani, shalati dan kuburkanlah jenazahnya dengan baik."
Nabi Musa segera berangkat, dan sampailah pada tujuan yang telah diperintahkan Allah SWT. Dia melihat lelaki yang pernah diusir dari kampung halamannya itu telah terbujur kaku, dan di kanan kirinya banyak malaikat yang menangisi. Melihat kejadian yang menakjubkan tersebut, Nabi Musa segera mengajukan pertanyaan kepada Allah, Ya Allah..!, adakah ini lelaki yang pernah kami usir atas perintah-Mu itu?"
"Hai Musa, apa yang engkau katakan yaitu benar. Tapi Aku telah mencintai dia, serta Aku telah mengampuni dosa-dosanya. Karena ketika sakit, ia merintih memohon belas kasihan kepada-Ku. Dia sadar, perpisahan dengan keluarga di kampung halaman bukanlah sesuatu yang memberatkan. Tetapi yang memberatkan baginya yaitu ketika harus berpisah dengan rahmat-Ku. Lalu Aku mengustus malaikat dalam bentuk wujud keluarganya. Semua itu karena rasa belas kasih-Ku kepadanya. Ketika ia sakit seorang diri di tengah hutan belantara, ia sangat merindukan sanak keluarganya, hingga ketika ia meninggal seluruh mahluk yang berada di langit dan di bumi menangisi kepergiannya karena merasa belas kasihan terhadap penderitaan yang dialami. Hai Musa, bagaimana Aku tidak akan merasa belas kasihan kepadanya, sedangkan Aku yaitu Dzat Yang Maha Pengasih. Oleh karena doa yang dipanjatkan ketika sakit, ia memperoleh kedudukan mulia di sisi-Ku, sekalipun kebanyakan orang memperlihatkan evaluasi bahwa dirinya yaitu seorang yang fasik ketika di dunia."
Sumber : Novel Religius, "Madah Cinta Shalihah." Oleh : Vanny Chrisma W. Hal. 7-11
Buat lebih berguna, kongsi:
