
Bismillahirrahmanirrahim
Nabi Adam AS. dan Ibunda Hawa hidup senang di surga, jawaban kecerdikan anyir Iblis, Adam dan Hawa telah bermaksiat kepada Allah SWT dengan memakan buah dari pohon yang telah Allah haramkan untuk mereka di surga. Sebagai eksekusi atas pelanggaran itu mereka diturunkan ke dunia.
Iblis tertawa bangga alasannya sudah berhasil menarik hati mereka berdua untuk melanggar larangan Allah SWT. Ia pun alhasil juga diusir dari surga. Akhirnya mereka bertiga diturunkan ke dunia. Adam dan Hawa sangat meratapi perbuatannya dan semenjak dikala itu Adam menyadari bahwa Iblis yakni musuh yang faktual baginya dan bagi anak cucunya.
Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: "Sujudlah kau kepada Adam", maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang. Maka Kami berkata: "Hai Adam, sebenarnya ini (iblis) yakni musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah hingga ia mengeluarkan kau berdua dari surga, yang mengakibatkan kau menjadi celaka. Sesungguhnya kau tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sebenarnya kau tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya." Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kau pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, kemudian nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia mendapatkan taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman: "Turunlah kau berdua dari nirwana bersama-sama, sebagian kau menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka kalau tiba kepadamu petunjuk daripada-Ku, kemudian barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thaahaa [20]:116-123)
Nabi Adam AS. dan Ibunda Hawa diturunkan ke dunia secara terpisah. Menurut beberapa ulama dan sebagian para mahir tafsir, Nabi Adam AS. diturunkan oleh Allah di sebuah gunung di daratan India sedangkan Ibunda Hawa diturunkan di sebuah gunung di negeri Hijaz, masing-masing mereka tidak mengetahui keberadaanya.
Adam menangis dan bertobat kepada Rabbnya, demikian pula Hawa. Allah SWT mendapatkan tobat mereka berdua dan berjanji akan memasukkan ke dalam nirwana untuk kedua kalinya.
Baik Adam maupun Hawa, mereka hidup terpisah seorang diri di atas hamparan bumi yang begitu luas. Adam melihat di sekelilignya dan tidak menemukan satu orang pun, ia memanggil-manggil, tapi tak ada bunyi yang didengarnya kecuali gema suaranya sendiri. Ia teringat pada hari ketika masih disurga. Malaikat berkeliling mengitari 'Arsy Allah sambil mengucapkan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir mensucikan dan mengagungkan Allah SWT. Adam bergumam lirih "Wahai Rabb, sendiri saya bertasbih kepada-Mu di atas bumi yang luas ini, tidakkah ada orang lain yang juga bertasbih kepada-Mu?"
Allah kemudian berjanji kepada Adam akan menimbulkan keturunan dan anak cucunya sebagai orang-orang yang bertasbih membangun masjid-masjid untuk shalat dan berzikir kepada-Nya. Di antara masjid-masjid tersebut salah satunya akan menjadi Baitullah Al-Haram (rumah Allah yang suci). Itulah Rumah Allah yang pertama kali dibangun di muka bumi ini.
Adam bertanya, "Wahai Rabb, dimanakah letak Baitullah Al-Haram itu?" Allah memberi petunjuk kepada Adam bahwa Baitullah itu berada di Makkah, negeri Allah yang suci. Adam alhasil berangkat ke Mekkah mengikuti petunjuk dari Allah, ia ingin segera bertawaf mengelilingi Baitullah sebagaimana para malaikat berputar mengelilingi Baitul Ma'mur di langit dan disekitar 'Arsy Allah SWT.
Sesampainya di Makkah, dari kejauhan Adam melihat ada bayangan insan lain, ia mendekat ke arah banyangan itu, sesudah semakin erat sosok bayangan itu rupanya yakni seorang wanita. Adam sangat merasa senang lantaran ternyata sosok perempuan itu yakni Hawa, isterinya tercinta.
Pertemuan Adam dan Hawa terjadi di Makkah di puncak sebuah bukit, maka kemudian bukit tersebut dikenal dengan sebutan bukit Arafah.
Adam dan Hawa kemudian pergi ke Baitullah Al-Haram di Makkah. Mereka mendapatinya masih dalam bentuk sebuah kerikil mutiara berwarna putih. Adam dan Hawa lantas melaksanakan Tawaf mengelilinginya dan banyak berzikir kepada Allah. Setelah itu mereka melaksanakan perjalanan untuk kembali ke daratan India, daerah dimana Adam diturunkan.
Perjalanan yang menyenangkan. Adam merasa sangat senang lantaran Allah telah mendapatkan tobatnya. Akan tetapi, kehidupan dunia yakni kehidupan yang melelahkan, dan kehidupan melelahkan itu telah dimulai. Jika sebelumnya, ketika masih di nirwana Adam dan Hawa tidak pernah mengenal yang namanya rasa lapar dan dahaga, maka di dunia, lapar dan dahaga yakni naluri perut manusia.
Allah pun mengutus malaikat Jibril turun menemui Adam. Malaikat Jibril turun dengan membawa beberapa butir biji gandum untuk disemai dan ditanam. Ia kemudian mengajarkan Adam cara bercocok tanam, menciptakan api dan mengolah butiran biji gandum hingga menjadi campuran hingga dimasak dan siap untuk dimakan.
Hari-hari nan senang dan penuh kesenangan di surga itu, sekarang telah berakhir dan berganti dengan hari-hari penuh derita di dunia. Keduanya mustahil kembali ke nirwana kecuali sesudah meninggal dunia. Sungguh waktu yang sangat panjang.
Betapa keras kehidupan dunia bila dibandingkan dengan kehidupan di surga. Begitulah kiranya kondisi Adam dan Hawa. Keduanya beraktifitas di alam yang sepi lagi luas ini. Berjuang keras tanpa ada orang lain yang membantu dan menolong. Setelah beberapa usang menjalani kehiduan dunia, Allah kemudian menurunkan pemikiran dan syariatnya kepada Adam sebagai tuntunan dalam beribadah, menyembah hanya kepada Allah SWT.
Sumber: Kisah Teladan Dalam Al-Qur'an. Oleh: Hamid Ahmad Ath-Thahir. Hal. 9-17
Buat lebih berguna, kongsi:
