Ikhlas Yang Dipaksakan

 Udin diminta oleh Kiyai Ahmad untuk mengantarkannya ke kampung sebelah Ikhlas Yang Dipaksakan
Bismillahirrahmanirrahim

Pada hari Jumat itu, Udin diminta oleh Kiyai Ahmad untuk mengantarkannya ke kampung sebelah, alasannya yaitu Kiyai Ahmad akan mengisi Khutbah Jum'at di Masjid kampung tersebut. Kebetulan si Udin memang hebat mengemudikan mobil, jadi Udin diminta untuk menyetir kendaraan beroda empat Kiyai Ahmad menuju kampung tersebut yang jaraknya memang agak jauh. Karena yang memintanya Kiyai Ahmad maka Udin pun tak kuasa untuk menolak, mengingat Kiyai Ahmad yaitu salah satu tokoh agama yang disegani dan ditokohkan oleh masyarakat kampung dimana Udin tinggal.

Menjelang siang Udin sudah berada di rumah Kiyai Ahmad. Kiyai Ahmad pun sudah siap untuk berangkat menuju kampung sebalah. "Ayo!, Din, kita berangkat sekarang!" Ujar Kiyai Ahmad. "Iya, Kiyai," jawab Udin sambil membukakan pintu mempersilahkan Kiyai Ahmad masuk ke dalam mobil.

Mereka datang di masjid tujuan sebelum azan Sholat Jum'at dikumandangkan. Tanpa menunggu usang lagi, Kiyai Ahmad bersama Udin segera berwudhu dan eksklusif masuk ke dalam masjid. Ketika masuk waktu sholat, azan pun dikumandangkan oleh Muazin.

Tidak usang kemudian, Kiyai Ahmad dipersilahkan naik ke mimbar untuk memberikan Khutbah Jum'at. Di pertengahan khutbah, ternyata Udin mengantuk, kepalanya menunduk-nunduk menahan kantuk. Semalam Udin memang begadang alasannya yaitu menonton siaran eksklusif sepak bola. Akibatnya siang ini, ia begitu mengantuk.

Saat itu, kotak infak masjid diedarkan. Sebagaimana lazimnya di kampung-kampung, kotak infak tidak ditempatkan didepan pintu masuk tetapi diedarkan secara berantai ketika khutbah sedang berlangsung. Tak berapa usang lalu tibalah kotak infak itu di hadapan Udin dan kini gilirannya untuk memasukkan uang ke dalam kotak infak tersebut.

Karena sedang mengantuk, ia mengeluarkan dompet dari kantong celana bab belakang dengan malas. Dia mengambil lembaran uang dua ribu rupiah dari dalam dompetnya dan memasukkannya ke dalam kotak infak. Tiba-tiba seorang lelaki renta yang duduk di shaf belakang menepuk bahu Udin dan menyodorkan uang sebesar dua ratus ribu rupiah kepada Udin. Udin menyangka orang renta itu memintanya memasukkan uang tersebut ke dalam kotak infak. Tanpa pikir panjang Udin memasukkan dua lembar uang kertas kepingan seratus ribu rupiah itu ke dalam kotak infak. Nah, dua ribu rupiah sudah masuk, menyusul dua ratus ribu rupiah juga sudah masuk kotak infak.

Dalam hati Udin bergumam, "Dermawan sekali orang renta ini. Dia nrimo menginfakkan uang sebesar itu ke masjid." Selanjutnya Udin segera mengedarkan kotak infak itu kepada jemaah di sampingnya. Udin kembali menunduk-nundukkan kepalanya alasannya yaitu menahan kantuk hingga khatib simpulan membacakan Khutbah Jum'at.

Saat Iqamah sudah dikumandangkan oleh Muazin, Jemaah Shalat Jum'at mulai bangun mengatur dan merapikan shaf. Tiba-tiba orang renta yang tadi menyodorkan uang dua ratus ribu rupiah kembali menepuk bahu Udin. "Nak, itu tadi uang kamu, jatuh dari dompetmu, ketika kau mau mengambil uang untuk dimasukkan ke dalam kotak infak."

Mak.., Jegglaakk..!

Udin terperanjat dan melamun beberapa saat. Ternyata uang yang dimasukkan ke dalam kotak infak masjid itu yaitu uang miliknya juga. Orang renta tadi menyodorkan uang itu kepada Udin alasannya yaitu ingin mengembalikan uang Udin, bukan meminta untuk memasukkannya ke dalam kotak infak. Rasa kantuk yang tadinya begitu berpengaruh menyerang Udin, sirna seketika. Matanya yang tadi merah alasannya yaitu menahan kantuk, kini merah alasannya yaitu menahan tangis.

Kini, tak ada yang sanggup dilakukan oleh Udin kecuali pasrah dan nrimo walaupun terpaksa. Setelah Sholat Jumat selesai, Udin duduk beberapa ketika sambil berdoa memohon kepada Allah semoga diberi hati yang lapang dan ikhlas. "Udiin.. Udiin..! hari ini kau benar-benar diberi pelajaran yang amat berharga," gumam Udin di dalam hati.

Dalam cerita di atas sanggup dikatakan bahwa Udin tidak sengaja berbuat kebaikan. Perlu diketahui, bahwasanya Allah mengetahui apa yang kita lakukan. Kaprikornus tidak perlu takut memberi apa yang paling kita sukai alasannya yaitu Allah. Apalagi apa yang diberikan itu terang untuk kebaikan Umat Islam. Allah telah berjanji untuk menggantinnya sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam Al-Quran.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah yaitu serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]:261)


Sumber: Muslim Jenaka. Oleh: Ali Abdullah. Hal.: 65-73.
Buat lebih berguna, kongsi:
close